Make your own free website on Tripod.com
 

Home Work Ethics Islam and Salvation Theology of Work Interview Are we a Christian Ghetto? Lifestyle after College Uang dan Materialsm Success Etika Bernegara Building Chritian Family Roles in Family The Church Church Structure Christian Leisure Dating

 

 

Uang dan Materialisme

Arry Kitting dan Filipus Suwargo

 

 

Abstrak:

Materialisme sudah menjadi problem yang unik bagi orang Kristen. Berbagai theologi yang saling bertentangan telah bermunculan dan menimbulkan keragu-raguan dan kebimbangan pada orang Kristen. Di dalam paper ini kami pertama-tama akan membahas tentang originitas materialism. Problem-problem yang ditimbulkan dari materialimspun akan dibahas. Dan berbagai pandangan Kristen di dalam menjawab masalah materilisme akan kami kupas secara singkat pula. Pada akhirnya, kami ingin memberikan suatu saran yang mungkin dapat dipertimbangkan dalam kehidupan sehari-hari didalam menjawab masalah materialisme.

Pembukaan

Cewe matere….cowo matere…..Tentunya anda sering mendengar ungkapan ini di dalam pergaulan anda dengan teman-teman anda. Apakah anda pernah berpikir lebih jauh kita mendengar kata-kata ini? Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan materialisme itu? Apakah sebenarnya definisi cowo/cewe matere? Apakah ini sebenarnya merupakan problem bagi masyarakat? Mari kita bahas lebih jauh topik yang cukup kontroversial ini.

Pengertian Materialisme

Kamus Webster mempunyai dua terjemahan tentang kata materialisme. Arti yang pertama, materialsm is the doctrine that comfort, pleasure, and wealth are the only or highest goal or values. Arti yang kedua, materialsm is the tendency to be more concerned with material than with spiritual or intellectual goals or values. Di dalam pembahasan ini kami akan menggunakan kedua pengertian ini sebagai basis penjelasan kami selanjutnya.

Sumber-sumber materialisme

"Then God said, "Behold, I have given you every plant yielding seed that is on the surface of all the earth, and every tree which has fruit yielding seed; it shall be food for you; and to every beast of the earth and to every bird of the sky and to every thing that moves on the earth which has life, I have given every green plant for food"; and it was so.(Genesis 1:29-30) Pada mulanya Tuhan memberikan kekayaan bumi untuk mencukupi basic needs dari manusia. Bukan hanya itu, tetapi ternyata Tuhan juga menyediakan lebih dari kebutuhan dasar manusia. Ini terbukti dari adanya great civilization dan terbentuknya culture. Dengan berkembangnya culture ini, kebutuhan manusia menjadi bertambah seiring dengan keinginan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Setelah kebutuhan manusia itu terpenuhi, tujuan dari memuaskan kebutuhan itu menjadi necessity. Pemuasan kebutuhan manusia itu sudah menjadi bagian hidup manusia. Pattern dari gaya hidup ini mempunyai impact yang sama dengan luxury. Apa yang dimulai dengan luxury menjadi sesuatu yang necessity. Dari sinilah sumbernya manusia mempunyai gaya hidup materialisme.

Gaya hidup ini secara tidak sadar didukung dengan adanya Revolusi Industri yang mempercepat produksi suatu komoditi. Sebelum revolusi Industri terjadi, kebanyakan produk-produk yang beredar dimasyarakat merupakan hasil buatan sendiri. Dari penelitian terhadap kegiatan masyarakat di Amerika sekitar tahun 1850, disimpulkan bahwa sekitar 6 dari 10 orang bekerja sebagai petani yang membuat kursi sendiri, baju sendiri, beternak dan menyediakan kebutuhan sehari-harinya secara mandiri [1]. Masyarakat memproduksi suatu komoditi berdasarkan kebutuhan yang dia rasakan benar-benar perlu. Setelah Revolusi Industri terjadi, produktivitas menjadi meningkat. Semua pabrik mampu memproduksi komoditi melebihi kebutuhan dasar masyarakat yang sebenarnya. Sebagai contoh, tahun 1882, ketika kebanyakan orang Amerika makan kentang dan daging, Henry P. Crowell dari Quaker Oats mendirikan pabriknya yang otomatis [1]. Apa yang harus dilakukan di dalam menutupi kesenjangan antara produksi dan kebutuhan ini? Industri sedang mempunyai momentum untuk berkembang dengan pesat. Memotong perkembangan ini bukan merupakan suatu pilihan yang menarik bagi para pemegang modal, pekerja, dan pemerintah. Satu-satunya cara adalah mengajarkan kepada masyarakat bahwa kebutuhan masyarakat belum terpenuhi. Masyarakat harus diberikan informasi bahwa kebutuhan hidup mereka lebih dari sekedar kursi buatan sendiri, baju buatan sendiri, dan lain-lainnya. Bagaimanakah caranya?

Kami rasa anda tentu sudah tahu tentang cara yang harus dilakukan. Ya benar, advertisement. Industri-industri mulai merasakan pentingnya advertisement untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa banyak sekali komiditi yang bisa didapatkan dari industri. The Thompson Red Book on Advertising pada tahun 1901 mengungkapkan,"Adverstising aims to teach people that they have wants, which they did not recognize before, and where such wants can be best supplied."[1]. Dari sini mulailah budaya advertisement dikembangkan dan efeknya memacu konsumsi masyarakat dan memajukan industri-industri yang sedang berkembang.

Dengan makin berkembangnya kesadaran masyarakat tentang adanya produk baru di pasaran, industri-industri bukannya makin mengurangi kegiatan mereka dalam advertising. Seorang pengamat menilai bahwa orang Amerika rata-rata diberikan eksposis kepada iklan komersil dan simbol-simbol sebanyak kurang lebih 16,000 buah setiap harinya [1]. Sedemikian tersebarnya hal ini sampai kita sendiri tidak menyadari akan hal ini. Kami sendiri iseng-iseng menghitung berapa banyak halaman dalam majalah TIME yang didedikasikan buat advertising. Dari 2 majalah TIME yang kami lihat, ternyata dari sekitar 100 halaman yang ada, kurang lebih 40 halaman dipergunakan untuk iklan. Empat puluh persen!!! Suatu angka yang menurut kami cukup besar dibandingkan dengan tujuan TIME itu sendiri yang diperuntukkan untuk memberikan berita. Dan keseragaman dari semua advertising itu adalah "Don’t save your money, we have the coolest product". Secara tidak langsung kita diajak untuk membeli dan membeli. Jadi bisa dikatakan kalau adverstising di abad ke 20 ini merupakan bagian yang tidak bisa dihindari dalam hidup kita dan merupakan salah satu sumber dari timbulnya gaya hidup materialisme.

Selain advertising yang mengebu-gebu, gaya hidup materialisme juga banyak di tampilkan melalui "tetangga yang modern" di dalam televisi. Bisa dikatakan sebelum munculnya televisi, suatu komunitas saling berkomunikasi satu dengan sama lainnya dan saling membandingkan apa yang dia punyai dengan apa yang dimiliki tetangganya. Dengan munculnya televisi, masyarakat modern mempunyai tetangga yang baru. Friends, Daisy Ratna Sari menjadi tetangga kita yang menjadi standar hidup kita.

Sekarang pertanyaan yang timbul adalah, kalau sifat materialisme memacu konsumsi dimasyarakat, yang akhirnya meningkatkan produksi industri-industri, memajukan perekonomian, dan akhirnya memakmurkan negara, kenapa kita harus khawatir dengan hal ini?

Efek-efek dari Materialisme

Sejak tahun 1960 suatu negara telah mengalami perkembangan seks bebas, penurunan jumlah perkawinan, penghilangan keamanan anak kecil, dan peningkatan jumlah kejahatan. Apakah ini terjadi pada negara yang miskin? Tidak hal ini justru terjadi pada negara yang secara ekonomi telah bertumbuh dengan pesat dan menjadi negara terkaya di dunia, Amerika Serikat. Keempat trend di atas terjadi seiring dengan terjadinya satu trend lagi yaitu meningkatnya persentase jumlah freshman yang mementingkan pentingnya financial status sebagai tujuan hidup mereka. Hal ini bisa dilihat di Figur 1.

 

Alasan yang diberikan para freshman adalah untuk mempunyai hidup yang bahagia. Apakah benar uang bisa memberikan kesenangan?

Figure 1. Hasil survery tentang tentang pentingnya finansial dan life philosophy

Menurut survey yang dilakukan oleh University of Chicago’s National Opinion Research Center; jumlah orang-orang yang pretty well satisfied dengan kondisi financial mereka menurun dari 42% ke 30% dalam kurun waktu 1956-1988, meskipun income mereka naik dua kali lipat. Hasil ini bisa dilihat di Figur 2. Jadi memperoleh penghasilan yang lebih dari cukup tidak memberikan kesenangan yang sama pula. Problem lainnya adalah greed dan covetousness yang senantiasa merupakan cobaan bagi manusia. Greed and covetousness merupakan sumber dari korupsi, kolusi, nepostime, etc. Dampak ini yang mewabah hampir semua negara-negara didunia, khususnya negara2 berkembang. Dengan adanya semua efek-efek yang negatif ini, bagaimanakah seharusnya orang kristen bersikap atau menghadapinya sehingga kita tetap berada dalam jalan Tuhan.

Figur2. Perbandingan tingkat kebahagiaan dan pendapatan

Pandangan-pandangan Kristiani mengenai Materialism

Ada tiga macam pendapat Kristen yang berusaha menjawab problem-problem diatas. Pertama, teologi prosperiti. Teologi ini mengatakan bahwa uang dan kekayaan harus dimiliki oleh orang Kristen dan kekayaan merupakan hasil otomatis dari iman kristiani kita. Salah satu pendeta yang terkenal dalam hal ini adalah Russel H. Conwell. Sebagai pastur dari Philadephia Baptist Temple ia pernah berkata di depan 6000 orang di suatu presentasi sebagai berikut," I say you ought to get rich and it is your duty to get rich" [2]. Selanjutnya dia juga pernah menulis:

Money is power and you have to ambitious to have it. You ought because you can do more good with it than without it. Money printed your bible, money built your churches, money send your missionaries, money pays your preacher…..etc[2].

Banyak orang yang melegitimasikan hal ini dengan mengutip misalnya ayat Isa. 1:19 yang berbunyi :" If you are willing and obidient, you shall eat the good of the land". Banyak orang Kristen yang juga mengemukakan pendapat bahwa orang kaya pun perlu untuk mengetahui kabar baik Tuhan dan hanya dengan mempunyai kekayaan yang sama maka seorang Kristen mampu mendekati golongan "up and out" ini.

William Diehl [2] berkata kalau hal ini banyak ditemui William pada "born-again" businessman yang berkata karena mereka telah menyerahkan semua usahanya pada Tuhan, sehingga mereka mendapatkan untung. Walaupun mereka merupakan orang-orang yang baik, yang telah merubah cara hidup mereka, keyakinan mereka tentang kesuksesan usaha mereka sebagai tanda iman mereka merupakan suatu hal yang belum bisa William rasakan.

Teologi yang kedua adalah yang disebut dengan Fransican Response. Yang secara singkat berkata bahwa " God wants us to live more simply so that others might simply live". Pandangan ini timbul berdasarkan pemikiran bahwa kemiskinan orang miskin dapat dijelaskan oleh kekayaaan orang kaya. Pandangan menganjurkan buat orang – orang kaya untuk meninggalkan segala sesuatu yang mereka miliki sehingga orang lain dapat dengan layak. Salah satu contoh pandangan ini misalnya pada tahun 1982 ada suatu gerakan di Amerika yang menganjurkan orang kristen untuk hidup dengan pendapat rata-rata $1800/tahun [3]. Padahal pada waktu itu garis batas kemiskinan di Amerika adalah $7412, sehingga secara tak langsung orang kristen diminta untuk hidup di bawah garis kemiskinan. Pandangan ini walaupun untuk beberapa kasus mampu memberikan solusi tetapi terlalu simplistik untuk kasus-kasus yang lain dan tidak mampu memberikan jawaban.

Teologi yang ketiga adalah the Capitalist Defenders. Teologi ini mengatakan kalau kita semua bisa berfungsi secara maksimal di dalam dunia kapitalis. Kalaupun ada orang yang tidak berhasil itu disebabkan ketidakmampuan mereka untuk berpikir di dalam dunia kapitalis saat ini.

Saran-saran dalam menghadapi masalah materialsm

Jadi kalau kita lihat bahwa beberapa teologi diatas terasa bertentangan dan belum bisa memberikan jawaban tentang masalah ini, apakah yang sebenarnya harus kita lakukan sebagai orang Kristen. Berikut ini kami cantumkan beberapa solusi yang kami ambil dari William E. Diehl[2] dan Dough Sherman [3].

1. Pengembangan sikap contentment, not covetousness

Petunjuk ini dapat kita lihat di dalam kitab Hebrew 13:5 yang berkata: Let your way of life be free from the love of money, being content with what you have; for He Himself has said, "I will never desert you, nor will I ever forsake you." Selain dianjurkan mempunyai sikap contentment terhadap keadaan material kita, ayat diatas juga memperingatkan akan adanya sikap serakah pada diri manusia. Sikap ini diwarnai oleh dua karakter: 1. When we look at what God has given us, and we look at what He has not given us, and we say, " I don’t have enough!" and 2. When we start longing for money as the way to get "enough," instead of longing for God as the Provider of "enough." Untuk menghindari sikap coventeousness ini, kita sebaiknya mengaplikasikan contentment lifestyle didalam hidup kita. Saran yang diberikan untuk bisa mempunyai sikap contentment ini adalah:

  1. Thank God for what you have

    Build a habit to always give thanks of what we have: provisions, meal, etc.

  2. Take care of what you have

    Berusaha untuk selalu memelihara barang yang kita punyai, regardless whether it is new stuff or junk property.

  3. Consider how much God has given you

    Bersyukur atas apa yang Tuhan beri dengan melihat kepada saudara2 kita yang tidak beruntung dari kita, daripada melihat

  4. Call coveting sin, and confess it
  5. Be aware of the signs of covetousness
  6. Just say "No!"

2. Mengejar gaya hidup terbatas, bukan luxury

Contentment merupakan suatu sikap yang baik, tapi hal ini akan menjadi basi apabila tidak bisa kita terapkan ke dalam gaya hidup kita. Kami tahu kalau ini bukan merupakan suatu jawaban a atau b yang eksata seperti matematika karena begitu banyak sekali pihak-pihak yang terkait didalamnya. Kita tidak bisa mengontrol semua perkembangan teknologi dan kebudayaan di sekeliling kita. Tetapi ada satu yang bisa kita pilih yaitu tingkat gaya hidup kita. Kebanyakan orang tidak pernah menentukan tingkat gaya hidup mereka dan akhirnya menyerahkan tingkat ini pada sekelilingnya. Sayangnya sekeliling kita menuntut kita untuk menghasilkan lebih dan lebih.

Bagaimanakah kita sebenarnya mempraktekan gaya hidup terbatas ini dalam panggilan Tuhan yang berbeda-beda. Apakah artinya kita yang menjadi pemimpin suatu perusahaan harus menjadi miskin? Willian Diehl dalam bukunya berkata, "What all of this mean is that we live on the enough side of our calling". Apabila saya menjadi eksekutif suatu perusahaan, saya harus mengikuti beberapa aturan yang berlaku di dalam perusahaan tersebut, tetapi saya melakukannya dengan komitmen yang seminimum mungkin. Concept ini dinamakan Functional economy yang menyatakan bahwa dalam membeli barang, dianjurkan untuk membeli barang yang termurah yang dapat melaksanakan pekerjaan yang kita inginkan.[3] Misalnya kalau teman sejawat saya tinggal di rumah mewah di kawasan perumahan kelas menengah keatas, saya tidak berusaha untuk tinggal di perumahan orang miskin, tetapi apabila bisa tinggal di rumah kelas rendah di perumahan kelas menengah keatas tersebut.

Satu point yang perlu diperhatikan di sini adalah kita tidak bisa menggantungkan kemampuan kita kepada diri kita sendiri. Orang Kristen bukan hidup sendirian, kita mempunyai komunitas Kristen lainnya. Dan dari sini kita mau meminta bantuan Kristen lainnya di sekitar kita untuk mengevaluasi penggunaan keuangan dan kekuasaan kita. William Diehl menekankan pentingnya support group di dalam kehidupan kristen kita seperti misalnya bible study group dan prayer meeting group yang dapat menjadi sumber accountability kita.

  1. Membangun gaya hidup "generosity", not greed

Sebelum kita membahas tentang memberi, kita akan membahas untuk siapakah uang itu? Pernyataan yang selama ini sering kita dengar adalah: "Ini uang saya; Ini hasil kerja keras saya; Saya boleh menggunakannya semau saya." Memang benar kita berhak atas reward dari hasil kerja keras kita, tapi yang tidak boleh kita lupa adalah Tuhanlah satu2nya yang provide semua yang kita peroleh. Kita itu sebenarnya adalah manager yang Tuhan telah mempercayakan uangnya untuk kita manage.

Selain itu, Tuhan juga menyatakan bahwa tujuan dari bekerja itu, supaya kita dapat memperoleh income yang cukup yang kita dapat salurkan untuk mereka yang membutuhkan. Kebutuhan itu mencakup dua category: orang yang membutuhkan financial needs, Christian ministries yang membutuhkan dana. Tuhan telah menyatakan untuk membantu orang yang kekurangan ini dalam 1 John3:17-18. Didalam ayat ini, Tuhan memanggil kita untuk berbuat sesuatu buat mereka yang membutuhkan, dan bukan hanya dengan lidah kita saja. Salah satu bukti nyata dari gereja yang telah membantu orang-orang yang kekurangan ini adalah Mendenhall Ministries. Mendenhall Ministries ini berhasil membangun model suatu komunitas orang kristen tanpa bantuan dari pemerintah. Komunitas ini dibangun dari kesadaran akan perlunya bantuan untuk menanggulangi kemiskinan di daerah orang kulit hitam di selatan.

Paul menulis di Galatia 6:6 bahwa kita sudah seharusnya membantu orang yang telah membantu kita. Di dalam ayat itu dikatakan, " Let the one who is taught the word share all good things with him who teaches." Di 1 Korintus 9:14 dikatakan," so also the Lord directed thos who proclaim the gospel to get their living from the gospel." Ini merupakan beberapa basis untuk membantu orang-orang yang bekerja di bidang pelayanan.

Hal yang perlu diingat adalah bahwa giving bukan hanya dilakukan oleh orang yang kaya tetapi semua orang. Contoh bisa diambil dari Markus 12:41-44 tentang seorang janda yang tetap memberikan uangnya walaupun ia dalam keadaan yang susah.

Kesimpulan

Materialsm adalah masalah yang sudah berkepanjangan dan menimbulkan banyak diskusi dan pertentangan. Hal yang paling penting kita lakukan adalah "take the action". Artinya kita harus menggantungkan diri bukan kepada apa yang kita punyai sekarang ataupun pada apa yang kita ingin miliki karena itu berasas ketidakpastian. Tapi tetap pada Tuhan yang telah memberikan segalanya.

Kita harus berani menentukan tingkat gaya hidup pada "lifestyle of enough" kita dan bukanya diatur oleh lingkungan kita. Kembangkan sikap contentment dan bukan covetous dan juga tanamkan kebiasaan menyumbang kepada setiap orang yang membutuhkan.

References:

  1. The Consuming Passion, Christianity and the Consumer Culture, Rodney Clapp
  2. Thank God It’s Monday, William Diehl
  3. Your Work Matters to God